 | Jumpa denganku di sini, kawan... Monggo mau mampir dan rekreasi sejenak... | Apr 29, 2009 |
QALAM Duhai qalam; Menajamkan goresan seluas langit Menggenggam sepekik gema raya Merintis tapak bermukim bekas Duhai qalam; Cakramu pada hati Asah denyut pikir dalam ruhy Mengayun cerdas bil imani Duhai qalam; Bentang tinta menari ria Semakna rasa pada nuansa Hingga larut dalam puja Duhai qalam; Meraut jelma serunai jiwa Rumpun cinta pada sang maha Bertaut satu dalam pena ------------------------------------ Kawan, Cukup kau sapa aku dengan Ni'mah. Seorang yang menyukai untuk menulis puisi dan diary. Punya obsesi ingin menjadi sang fotoghrafer. Berhasrat memiliki rumah singgah dan sekolah alam. Serta mengimpikan menjadi hafidzah dan ibu rumah tangga yang baik. Cita-cita besar yang belum bisa kupenuhi adalah membahagiakan hati abah dan mama terkasih untuk menjadi seperti apa yang mereka harapkan. Benar-benar menjadi teman berbagi cerita dengan kakak perempuan, dan teman bermain untuk adik laki-lakinya yang slalu mengharapkan kebersamaan denganku. (maaf my beloved family... saat ini masih belum bisa membersamai kebahagiaan diantara kalian....) Suatu saat nanti aku akan pulang... Aku seorang yang plegmatic melankolic. Tentunya kau sedikit bisa membayangkan aku seperti apa orangnya. Penyuka warna ungu karena terinfeksi virus dari seorang teman. Penikmat juz alpukat dan memfavoritkan bakso sebagai min. n mak. kesukaannya. Dunia sosial yang kugeluti saat ini menjadikan aku lebih memaknai kata berbagi dan melakukan kebaikan. Menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain itulah prinsip yang kucoba untuk ambil. Akasma Harika, seperti nama sitenya adalah nama penaku juga. Nama panggilan untuk notebook dan polygon sierra, sahabat-sahabat yang turut menemani perjalanan hidup ini. Akasma yang slalu kuzalimi untuk mendengarkan cerita-ceritaku sampai larut malam, si notebook biru yang telah membantu sedikit mengabadikan kisah-kisahku. Serta Harika yang tangguh membawaku kemana saja, yang sejatinya belum pernah kudengar ia mengeluh. Semoga kalian bisa istiqomah membersamai hari-hari yang kuturut bermain dalam skenarioNya. Laiknya akupun berusaha untuk tetap istiqomah di jalan yang telah mentarbiyah diri ini. Karena ada aku, kamu, kita, dia dan mereka ....yang akan membantuku merangkai cerita di blog ini. Salam blogger 
Sang bilik inspirasiku yang baru, kamar bercat kuning ini lah yang kutempati sekarang. Cerah... seperti cahaya matahari kubilang. Sebenarnya kamar ini aku suka, hanya saja ternyata bener-bener tidak ada pencahayaan matahari yang masuk. Sebelumnya, aku pikir jendela yang ada di kamar ini, ketika dibuka akan nampak keluar. Ternyata, terhalang tembok lagi. Sehingga, jendelanya tidak memberikan pengaruh apa-apa, baik itu cahaya matahari langsung maupun udara segar. Seakan-akan 24 jam harus menerangi kamar ini pake lampu listrik jika berada di kamar.
Kamis tanggal 17 Mei kemarin, aku baru saja pindahan ke kos yang baru. Tepatnya kos ini punya keluarga ‘jauh’ku juga. Seminggu sebelumnya, aku, kedua ortuku, dan pamanku, silaturrahim ke tempat beliau sehabis maghrib. Memang sudah lama juga ga ke tempat beliau, terutama aku yang sebenarnya belum pernah sama sekali meskipun jaraknya sangat dekat dengan tempat tinggalku sebelumnya. Ya, pasalnya aku juga tidak tau rumah beliau maka dari itu belum pernah kemari. Waktu itu juga sekalian nanya-nanya tempat kos punya beliau. Pas ngeliatin kamarnya, langsung aku suka. Cuman karena kondisi malam, aku ga tau kalau jendela itu terhalang tembok dan langit-langitnya juga tertutup. Soalnya ga meriksa dulu untuk mencoba membukanya. Jarak jendela dengan tembokpun hanya sekitar 40 centimeter. Udara kamar jadinya sedikit agak pengap, terpaksa pake kipas angin pula untuk menghilangkan kegerahan.
Tapi, dilain sisi disini aku merasa nyaman dengan kondisi hati. Merasa lebih bisa memenej dan fokus untuk mengerjakan target-targetku. Insya Allah, semoga...
Belum tau, sampai kapan nanti disini. Atau harus pindah lagi nyari kondisi yang lebih kondusif.
Disini, aku juga punya misi kebaikan terselubung untuk penghuni kos yang lain... hehe... semoga niatku dimudahkan. Aamiin... Do'akan aku, mba Sis, mas Bro...
Selalu ada ladang amal dimanapun kita berada. Untuk memulainya, slow down baby... ^o^
" Look at the moon tonight, I believe the supermoon appears for God wants it to reminds me to you; ur love, ur sacrifice, ur smile, ur tears, ur shiny glowing face who filled my life with laughter n happiness.
They’re just all as perfect as the round wonderful moon, so powerfull.
Thanks for everything, my dearest moonlight, n sorry for everything…"
(pinjam dari kata-kata sodariku: Muna)
Modus Anomali....
hmm... ntar mo cerita lagi tentang tu film triller yg baru aku tonton... Bukan. Bukan berjejer sepeda-sepeda kecil di halaman sekolah itu yang terlihat. Tapi, jukung-jukung kecil yang terikat pada tunggul-tunggul di ujung titian itu.  ~ # ~
Hari ini, hari yang menyenangkan bisa mendapatkan pengalaman berharga. Sesuatu... yang kusebut... keren. Rencana survey yang mendadak hari ini dilakukan, ternyata luar biasa. Aku diminta oleh atasanku untuk menyurvey data-data siswa di sebuah sekolah yang mana mereka kemungkinan memang layak untuk dibantu mendapatkan beasiswa dari lembaga tempatku bekerja. Sebenarnya tidak mesti hari ini tadi, berhubung seorang teman yang menemaniku bisanya hari ini, ya kita jalan aja. Alhamdulillah, pas kerjaan di kantor juga tidak banyak karena sudah kuselesaikan sebagian kemarin. Jadi, hari ini sedikit lapang untuk bisa pergi ke luar. SDN Basirih 10. Nama sekolah itu, baru ter exspose dalam bulan ini disebuah media koran lokal yang mana aku juga baru tau tentang sekolah ini. Informasi yang kudapat dari atasanku dari denah yang dikasihkan, kalau untuk menuju ke sekolah ini harus naik klotok melewati sungai Basirih. Waw... ada apa sebenarnya dengan sekolah ini? Setelah ku searching di google sebelum berangkat, alhamduillah, ada info tambahan bahwa jika air sungai Basirih ini surut, maka anak-anak dan para guru yang hendak menuju ke sekolah mereka di tempat terpencil tersebut bisa melakukan belajar mengajar di atas klotok atau jukung-jukung tersebut yang mana mereka tidak bisa meneruskan perjalanan karena terhenti di tengah jalan. Ya, ini disebabkan faktor alam. Air sungai yang mendadak surut membuat klotok mereka tidak bisa sampai ke sekolah. ~ # ~
Sekitar hampir jam 11 siang, aku dan temanku, ka Minah, tiba di tempat persinggahan klotok yang biasanya akan membawa para guru dan sebagian murid itu ke sekolah. Sebut saja pake istilahku, ‘halte klotok’. Memang, untuk menuju ke sekolah ini tidak ada akses jalan darat yang menghubungkan. Jadi, itulah salah satu jalan kesana. Sebelumnya aku sudah kontak pa Yusnani, kepala sekolahnya, akan kedatangan kami. Dan beliau bersama seorang guru menunggui kami di dekat halte klotok tersebut.  Kurang lebih 20 menit berada di atas klotok untuk sampai ke sekolah ‘keren’ itu  . Dengan melewati pohon-pohon paya, pohon-pohon rambai, dan pohon-pohon lainnya yang terendam air sungai serta jamban-jamban dan rumah-rumah penduduk yang berjejer di tepi-tepinya, membuat kesan tersendiri yang mengagumkan untuk menuju rumah ilmu tersebut. Betapa luar biasa para guru yang mendedikasikan diri mereka untuk menjadi pengajar di tempat unik seperti sekolah SDN Basirih 10 yang selama ini tak kusadari pula bahwa ada di daerah sendiri. Jadi ingat, para kawan-kawan PM (Pengajar Muda) di gerakan Indonesia Mengajarnya Anis Baswedan yang ditempatkan di daerah pelosok. Ah, Banjarmasin... ada rupanya kau memiliki yang seperti itu (lugu banget jadinya...).  Sesampainya, sempat campur aduk juga nih rasanya hati. Antara merasa senang mendatangi tempat itu dan sekaligus miris. Sekolah yang minim fasilitas. Ruang kelas yang cuma ada 3 bilik harus disekat lagi untuk mencukupkan kebutuhan belajar antar jenjangnya.  Jumlah siswanya ada 69 orang saja dari kelas 1 sampe kelas 6 dengan jumlah tenaga pengajar 10 orang. Halaman sekolah yang luasnya sekitar 15 x 25 m yang kadang terendam air juga bila pasang, membuat mereka hanya terkurung di teras-teras dan di dalam kelas tidak bisa bermain ke luar, apalagi melakukan upacara bendera jika kondisinya demikian. Ruang perpustakaan yang bersebelahan dengan ruang guru, juga sama-sama sempit dan kecil. Jam belajarnya pun tidak bisa sama dengan aturan yang berlaku. Kadang mereka mulai pembelajaran jam 8 ataupun jam 9. Ya, ini sekolah yang tergantung faktor alam. Para siswanya pun rumah mereka berada di tepi-tepi sungai yang kami lewati tadi. Rata-rata mata pencaharian orang tuanya kebanyakan sebagai ‘buruh tani’. Terkadang para orang tua yang sibuk berangkat kerja pagi-pagi, tidak terperhatikan lagi ke anak-anak mereka untuk menyiapkan sarapan. Rata-rata mereka sudah bisa memasak di usia yang masih belia itu. Hal itu, menjadikan mereka belajar mandiri dan bertindak dewasa sebelum waktunya. Ada pula, yang mengajak adik kecil mereka ke sekolah karena tidak ada yang menjaga di rumah. Begitulah, penuturan dari guru-guru disana yang kudengar. Lingkungan telah mengajarkan mereka untuk bersikap mandiri.  Anak-anak yang lulus dari SD tersebut, kebanyakan berhenti tidak melanjutkan ke tingkat sekolah berikutnya. Namun, adalah sebagian kecil yang sampai ke tingkat SMP dan itu pun syukur alhamdulillah kata salah satu gurunya. Intinya, siswa-siswi mereka bisa membaca, menulis dan berhitung, itu juga hal yang sudah cukup luar biasa. Selain karena masalah ekonomi, kesadaran akan pendidikan juga minim.Kebanyakan, mereka pun menikah dengan sesama orang yang tinggal disitu-situ juga. Dengan sesama orang tepi-tepi sungai.
  Banyak pelajaran yang didapat juga dari pengalaman hari ini. Sekedar me refresh kembali akan kesadaran nilai-nilai kehidupan. Lebih sering melihat ke bawah dan memahami bahwa kekurangan yang ada pada mereka memberi nilai plus di mata kita. Mereka justru lebih kuat dibanding kita.Melihat satu persatu anak-anak itu berlarian di sepanjang titian kecil menuju jukung-jukung yang ‘terparkir’ tidak rapi hendak pulang, senang menyaksikan mereka berebutan menaikinya. Dan, jukung-jukung itu pun bergoyang-goyang kecil karena riak air yang mereka buat gaduh. Pastinya, mereka semua pada mahir berenang (sedang aku, menyenyumi diriku sendiri  ). Mereka, anak-anak yang hebat. Punten, jadi serasa membanding dengan anak-anak kota yang sekolahnya sebagian diantar orangtua. Sedang mereka, mengayuh sendiri jukung-jukung itu.
 pulang...  mana jukungku ya.... 
Kami, bersama 10 orang guru serta beberapa siswa yang lain yang tersisa juga bersiap pulang dengan menaiki klotok yang membawa kami di awal tadi bersama hujan yang mulai turun. -----------
Titis hujan yang menyambangi sungai Basirih tidaklah meninggalkan jejak basah pada pijakan tanah. Karena, ia masih setia menjamah aliran cinta disepanjang jejak pengabdian pejuang-pejuangnya. Dan disini, aku cemburu.  Bilik Inspirasi 26/04/12 01.00 a.m Jum’at tanggal 6 kemarin, kawan-kawan pengurus FLP rombongan ngejengukin Diah, salah satu anggota yang terkena Mioma di kediaman kosnya. Setelah sempat dirawat di rumah sakit sebelumnya beberapa hari untuk menormalkan darahnya yang sedang terkena anemia juga. Ketika kami datang, memang dia terlihat seperti tidak sakit apa-apa, terlihat seperti orang sehat. Itu karena Diah, berusaha untuk tetap semangat dan selalu ceria. Senang melihat senyumnya Diah dan senang pula melihat semangat persaudaraan kawan-kawan yang lain yang meluangkan waktu hari itu untuk menjenguknya.
Di ruang tengah kosnya yang luas, kami berbincang-bincang semua. Membicarakan tentang FLP, juga tentang hal lain dengan diselingin canda tawa. Ah, melihat semua itu, bahagia hati ini. Semoga kita tambah solid aja, ya kawan-kawan.
Siangnya, jam setengah empat sore. Siap-siap ke Banjarbaru Fair, tuk jaga stand disana.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun...
Sebuah pesan masuk di hp kubaca. Dan isinya membuat aku tidak percaya. Merasa ini tidak mungkin. Tak lama ku telpon balik teman yang menyampaikan berita duka tersebut. “Ris, beneran kah yang meninggal itu Iwin teman kos kita dulu di Amuntai?” Iris bilang kalau dia tau dari sepupu suaminya Iwin, Nisa, yang bilangin kalau Iwin sudah meninggal bulan Ramadhan kemarin. “Ya Allah... Ris kenapa sih kita harus tau berita ini sekarang... kenapa ga dulu-dulu... itu artinya sudah 8 bulan dia meninggal, dan kita sebagai kawannya baru tau itu hari ini.”
Itulah perbincanganku dengan Iris, teman lamaku sejak sekolah di MAN 2 Amuntai. Teman satu kos, juga teman satu kamar. Sama halnya dengan almarhumah Iwin, yang terkenal rame, kocak, ga bisa diam, dan nyenengin itu, tiba-tiba membuat memory otakku sedikit flashback mengenang kebersamaan di masa-masa sekolah, masa-masa sudah jadi anak kosan.
Yang bikin kesel itu, kenapa baru taunya sekarang... Terakhir kontak dengan Iwin, menjelang dia mau menikah. Dari penjelasan Iris, Iwin meninggalnya karena dia sempat ngalamin keguguran ketika hamil pertamanya menjelang 4 bulan. Dan, katanya pas keguguran tersebut masih ada sesuatu yang tertinggal di rahimnya yang mestinya harus dikeluarkan (dikorek). Sedangkan Iwin, tidak melakukannya. Sejak itu, dia sakit. Dan itulah yang menjadi penyebab kematiannya.
Astaghfirullaah... Dan semua akan kembali padaNya
Teman, yang sudah kuanggap kayak sodara kandung sudah melepas masa sendirinya. Yang artinya, banyak hal yang nantinya membatasi hubungan kami. Tidak akan seperti hari-hari sebelumnya yang masih bisa melewati kebersamaan berdua. Ya, meski tidak akan mengakhiri kesemua yang pernah kami lewati bersama, meski aku juga sudah terbiasa dengan kehidupanku yang tidak terlalu suka akan keramaian, rasa kehilangan itu pasti ada. Ya iyalah... semua akan berubah pada masanya nanti bila ia sudah tiba. Dan, hari yang telah dilalui itu tidak akan pernah sama dengan hari esok yang akan dijalani. Untuk my sis,  Alhamdulillah, barakallahulakuma wa baraka’alaika wa jama’a bainakuma fi khoir... 1 April, sebelum ke acara nikahannya Ina yang akan berlangsung pukul 14.00 wita siang. Pagi-paginya sudah mengagendakan untuk rihlah bareng temen-temen di FLP. Cuaca memang sedikit tidak mendukung subuh itu. Yang pada semula ada sekitar 20 orang yang pengen ikut, akhirnya tersisa 13 orang yang masih setia dengan keinginannya. Ya, tidak menyalahkan teman-teman yang ga bisa datang, karena sebagian ada pula yang sakit. It’s ok aja. Namun, karena hujan yang lumayan deras, menyebabkan kami harus saling tunggu satu sama lain sampai terkumpul dan nunggu sedikit reda. Akhirnya, sekitar hampir jam 7 pagi baru bisa berangkat yang semula jam 6 dicanangkan sudah bisa menikmati rihlah kali ini. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan...  Di sepanjang perjalanan naik kapal klotok menuju ke pasar terapung Lok Baintan, masih disuguhi langit air hujan yang belum reda. Jadinya ga bisa naik ke atas bubungan kapal hingga bisa menikmati pemandangan dengan leluasa. Rihlah kali ini juga sekaligus ngadain reuni dengan teman kami yang sekarang sudah kerja di Balikpapan. Nyempatin masa-masa cutinya pulang ke Banjarbaru, yaa... diajakinlah untuk ikut dalam refreshing kali ini di Banjarmasin. Pasar Terapung Lok Baintan, ini kali kedua aku kesana. Nuansa sungai dengan pohon-pohon rumbia, pohon-pohon rambai, juga pohon-pohon lainnya yang menjejali di pinggir-pinggir sungainya kokoh berdiri dengan kaki terendam air. Sesampai di sana, sudah banyak pula pengunjung-pengunjung lain dengan rombongannya masing-masing melakukan aksi jepret sana jepret sini, tawar sana tawar sini dengan penjual yang ada di jukung-jukung. Begitu pula yang dilakukan kawan-kawan di FLP. Rupanya sudah pada lapar nih... alhamdulillah, ada jajanan makanan yang bisa ditawarkan oleh para penjual yang kebanyakan para kaum ibu dan nenek-nenek itu. Jadilah... kawan-kawan hampir semua pada beli nasi bungkus, buras, dan wadai-wadai lainnya untuk sedikit menepis rasa lapar. Melihat mereka yang rame makan di atas bubungan klotok, tertawa-tawa... senang rasanya pagi itu. Ada Tya dan Tiya, ada Erni dan Rahma, ada Rahmi dan Utami, ada Pa Didi dan Budi, ada Arief, Zian dan ihsan, juga ada aku dan Murni. Hmm.. ada yang lucu-lucu juga kejadiannya. Teman kami Tya, ingin membeli sayur ‘katu’yang dijual oleh salah satu jukung yang lewat di sisi klotok kami. Diteriaki olehnya...”bu..beli katunya bu...” sampai beberapa kali. Eh si ibu cuma manggut sesekali mendengar teriakan itu, tapi tidak mendekat, malah semakin menjauh dari klotok kami. Haduh, kasihan Tya, dicuekin ibunya... ga tau juga kenapa tuh si ibu, apa kurang jelas mendengarnya atau apa, kami cuma ketawa-ketawa menyaksikannya.  Alhasil, dia akhirnya beli nenas sama erni dan aku beli mangga muda. Hee.. lagi ngidam nih pengen makan tu buah. Tapi, bukan ngidamnya ibu hamil yoo... Setelah cukup puas dengan jalan-jalan air pagi itu, kembali ke dermaga di warung soto bang amat, tempat semula kami ngumpul. Sebagian ada yang langsung pulang dan sebagian yang lain, dapat traktiran nih dari Budi, alhamdulillaah... kita makan-makan dulu di warung tersebut. Lalu, berpisah dan kembali melanjutkan aktivitas masing-masing... Tiba di rumah. Diriku, siap-siap untuk datang dan mendampingi di acara nikahan sodariku siangnya itu. Hari yang indah... Ya, bulan ini lagi booming dengan film laga tersebut.
Alhamdulillah, bela-belain pula tuk nonton tu film. Penasaran dengan aksi para pemainnya yang pernah kulihat ulasan tayangannya di televisi yang telah sukses di luar negeri, akhirnya jadi juga, aku my sis ina, dan muna, bertiga ke twenty one. Ah, tapi lupa tanggal berapa kemarin itu nontonnya. Udah sekitar seminggu yang lalu sebelum my sis ina nikah.Artinya, masih di bulan Maret akhir aku nontonnya. Soale, nikahannya Ina kan tanggal 1 April. Waah, hehe... keburu udah hampir basi ni cerita. But, no problemo... aku sudah janji dengan diri aku sendiri tuk tetap nulisinnya di ‘villa’ ini.
Kata salah satu sis ku itu, yang keren dari film tersebut hanya dua. Eko Uwais dan silatnya. Hahay... memang bener-bener keren sih nurut aku. Belum pernah aku liat film yang menurutku ‘sadis’nya yang begituan. Kalau lihat film-film monster sih yang ngoyak-ngoyak mangsanya udah biasa. Lha ini manusia yang melakukan hal itu.
Pas, di dalam studio,,, waktu openingnya sudah bikin shock therapy. Ngeri. Bikin teriak dan mual. Di sini aku ga nyeritain sinopsis filmnya, tapi ingin memberikan pujian sekaligus mengkritik sedikit. Ya, mungkin kawan-kawan sudah pada tau tu ceritanya seperti apa. So, disini aku memposisikan sebagai seorang pengamat film. Ceilah..gayanya. hee... ga papa. Sebagai seorang penonton tentunya juga pasti bisa menilai ntu film bagus or tidaknya. Nah, sama halnya dengan mengamati filmnya itu sendiri. Iya kan..? (meminta pembenaran).
The raid, film yang good actionkarena silatnya yang menonjolkan budaya Indonesia. Aksi silatnya, bisa menghadirkan tepuk tangan yang riuh di dalam studio. Artinya, film ini bisa menghipnotis penonton dan membuat mereka begitu apresiasi akan film semacam ini. Simple setting, karena filmnya cuma bertempat di dalam sebuah apartemen yang lebih fokusnya meskipun ada latar-latar pendukung seperti diawal cerita yang menggambarkan Rama alias Eko yang berada di rumahnya bersama istri dan ayahnya. Dan menurutku, latar yang sederhana bisa memaksimalkan panjang atau alur cerita, itu sangat luar biasa di mataku. Film ini juga sangat sangat berhasil membuat aku mual pengen muntah. Ya, sebenarnya aku fobia melihat yang namanya ‘darah’. Film ini bener-bener nguji nyaliku juga. Ah, entah... apa setelah nonton film ini, ketakutanku melihat darah apa bisa hilang. Dan,sepertinya tidak. But, bukan ketakutan yang berlebihan sih, hanya saja bikin.... seep... lemes ngeliatnya.
Sebenarnya pernah juga sih, nonton film-film model kayak gini. Ada mafia, geng, kekerasan, kesadisan dan apalah namanya... Tapi, itu film luar negeri. Pas, ngeliat ‘the raid’, jadi bertanya-tanya juga. Apa memang seperti ini kehidupan para mafia di Indonesia. Eitss... termasuk yang mafia pajak, mafia hukum.. dan mafia-mafia pemerintahan lainnya...hehehe...
Terus, untuk kritikannya...
Aku melihat beberapa macam kejanggalan sih di film tersebut. Ntah, apakah aku yang ga terlalu paham dengan kondisi semacam itu atau apa. Yang jelas, pengen ngungkapinnya disini. Pertama, pas aksi mereka nyampe di markas gembong penjahat di apartemen itu, rada-rada aneh sih, liat si pak tua yang kepalanya putih itu (lupa siapa nama pemainnya disitu, harap maklum...) sudah ada di dalam lingkungan apartemen nungguin kedatangan tim “SWATnya Indonesia” ini. Maksudnya kenekatannya itu dipertanyakan. Padahal itukan markas gembong kejahatan yang terkenal kejam ceritanya. (pengen minta kejelasannya sih, why...)
Kedua, disana masih terdapat orang-orang baik yang tinggal diapartemen itu. Contohnya, si bapak yang istrinya terbaring sakit – yang tim SWAT temui ketika mereka mau masuk menyerbu apartemen itu – sedang membawakan obat untuk istrinya tersebut. Padahal, jelas-jelas yang menguasai apartemen itu adalah gembongnnya para mafia. Kok, masih berani mereka tinggal disana meskipun dijamin murah biayanya. Ah, kok mau-maunya mempertaruhkan nyawa tinggal di lingkungan seperti itu yang membahayakan keluarga.
Ketiga, disana juga terlihat kalo apartemen tersebut berada dekat dengan jalan raya, kehidupan kota, dan keramaian. Hmm... rada-rada kontras sih... bunyi runtunan senjata yang memuntahkan peluru, apakah tidak sampai didengar oleh mereka-mereka yang ada di jalan raya tersebut (ketika para geng menembaki kedua sopir mobil yang membawa tim SWAT itu)?
Nah, ngomongin tentang kewaspadaan pula disini aku. Tentang kedua sopir yang membawa mobil tim SWAT itu. Eh, di situasi dalam misi penyerbuan yang demikian, masih santai-santainya membaca koran dan ngebahas tentang bola (kalau ga salah dengar kemarin itu) di dalam mobil. Yang pada akhirnya, mereka ditembaki para geng tersebut dengan tiada ampun. Hmm... jadi berpikir pula. Apakah seperti ini sikap orang-orang di negeri sendiri? Santai. Itu yang keempat.
Kelima, semoga ini yang terakhir. Yup, di adegan yang terakhirnya sebagai penutup. Ketika misi selesai. Ketika mereka mau pulang lewat jalan depan... eh, ternyata ada penjaga pagar apartemennya. Tambah heran... dan tidak mengerti. Dan mempertanyakan, ini penjaga, orang baik or tidak ya... kalo mereka jahat, pastinya tidak membiarkan para tim SWAT yang tersisa itu keluar dengan baik-baik. Atau apakah ada kakaknya Rama yang juga termasuk salah satu mafia yang mengantarkan mereka sampai ke pintu pagar apartemen sehingga dibolehkan keluar?
Tambahan kritikan dari temanku yang lain, menyimpulkan dari yang kami bahas bersama tentang ntu film yang sebenarnya kritikannya sama denganku, ‘The Raid’ tersebut masih belum matang garapan ceritanya. Walaupun, ketidakmatangan tersebut hampir tersamarkan dengan laga silatnya yang memukau.
Hadeeuh... ckckck... banyak banget ya kritikanku. Hihihi...
Yang jelas, dibalik film ini ada konspirasinya kata sis ku. But, overall, aku suka akan filmnnya, dan masih membenci yang namanya ‘darah’. Hiiy... tapi, untuk nonton lagi , cukup sudah... cukup sekali. Tapi lagi, kalo nonton lanjutannya, pasti. Tetap pengen tau dan penasaran. Katanya, ini lebih dan lebih lagi... lebih ngeri juga barangkali. Siap uji mental lagi...
The Raid, La Moge, Pasar Terapung, Nikahan Ina, Meninggalnya Iwin, dan Tentang Sepi...
yaah... semingguan kemarin ingin cerita akan hal-hal di atas itu.
but... lagi dilanda futur...
nanti yo Dy...
waiting for my good moody
Sunday, alhamdulillah... mengasyikkan. Diskusi FK ke-11 FLP Banjarmasin yang mengangkat tema tentang "Lokalitas" bersama bang Harie Insani Putra - seorang sastrawan kalsel dari Banjarbaru - seru juga ternyata. Semangat memperkaya tulisan dan memperbaiki kualitas tulisan sendiri jadi semakin tercerahkan lagi dengan asupan ilmu yang beliau berikan. Meski beliau terlambat datang ke forum itu karena macet di hari Minggu (25/3) pagi dengan aktivitas berolahraga di jalan-jalan, kawan-kawan masih setia nungguin walaupun hampir 1 jam nunggunya, hee... Intinya terbayar saja dengan masukan penjelasan bang Harie dalam diskusi kemarin. Tapi, sayang cuman 12 orang saja yang hadir. Yaah.. maklumlah banyak agenda yang lain juga kawan-kawan pas benturan dengan agenda FK hari itu. Mengangkat tema tentang "Lokalitas", memang sudah pernah materi itu kudapatkan. Baik di FK angkatanku dulu, sharing dengan penulis, ataupun di Upgrading Nasional Pengurus FLP yang pernah aku ikuti dulu. Namun, selalu menarik untuk didiskusikan.  Lokalitas, memang makna itu terkadang serasa sempit yang diartikan memuat unsur kedaerahan, budaya daerah, etnik, dialek, tradisi, dan sejenisnya. Padahal tidak. Aku ingin mengutip isi makalah Bang Benny, penulis FLP dari Lubuk Linggau (salah satu penulis yang gaya bahasanya aku suka) yang pernah beliau sampaikan waktu UG Nasional Pengurus FLP di Kaliurang, Februari 2011 yang lalu, yang mana tidak jauh berbeda dari yang disampaikan oleh bang Harie. berikut isi makalah tersebut: Lokalitas & Tradisionalitas Benny Arnas
SUNGGUH menyedihkan, ketika membincangkan lokalitas dalam sastra, maka yang serta-merta terbersit dalam pikiran adalah karya yang bermuatan unsur kedaerahan; nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal. Lho? Bukankah hal-hal tersebut menjadi bahan utama sebuah karya yang mengusung lokalitas? Pun kalau salah, memangnya lokalitas dalam sastra itu apa?
Sejatinya, muatan kedaerahan sangatlah tidak salah untuk dikaitkan atau bahkan dimasukkan ke dalam kotak ‘lokalitas’. Hanya saja, semua itu tak dapat langsung dijadikan sebagai penanda tunggal untuk definisi lokalitas. Muatan kedaerahan cenderung mengerucut pada sebuah lingkup yang bernama tradisionalitas. Tradisionalitas inilah yang kerap salah dipersepsikan. Tradisionalitas kerap dianggap sama dengan lokalitas. Padahal tradisionalitas hanya bagian atau varian dari lokalitas.
Melanie Budianta memberi batasan ‘lokalitas’ sebagai sesuatu yang partikular (yang tertentu). Agus R. Sarjono melihat ‘lokalitas’ sebagai penajaman perspektif. Lebih jauh ia menyatakan bahwa menjadi lokal, tak lain dan tak bukan, menjadi pribumi untuk tema-tema yang diangkat. Raudal Tanjung Banua menyatakan bahwa ‘lokalitas’ adalah ‘iman’ estetik dan tematik yang dikukuhi. Raudal lebih menyoroti bagaimana kemampuan para pengarang mengeksplorasi tema dengan baik, dalam, kuat, dan memberikan ‘taste’ tersendiri terhadap karyanya.
Ya, menjadi lokal adalah menyelami tema-tema sastra dengan sepenuh hati. Mencintai apa-apa yang ia karang dengan mesra. Hingga akhirnya, selain meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknai cerita, juga melahirkan keintiman psikologis dengan pembaca. Maka, lokalitas dalam sastra adalah bagai menyaksikan taman bunga yang harum. Harum yang partikular. Ada aroma mawar, melati, anyelir, atau wangi bunga yang lain. Maka, adalah sangat menarik, berkenaan dengan buku “Orang-orang Bloomington”-nya, Budi Darma mencuatkan istilah “lokalitas Orang-orang Bloomington”. Maka, dengan semua keberhasilannya, Ahmad Tohari dapatlah dikatakan menyerusi lokalitas-desa; pada beberapa karyanya Habiburahman cenderung pada lokalitas-Mesir atau lokalitas-pesantren, Helvy Tiana Rosa dengan lokalitas-profetik, Rag Di F. Daye dengan lokalitas-Minangkabau, Hamsad Rangkuti dengan loklaitas-urban, dalam kumpulan cerpen Kali Mati, Joni Ariadinata tampak setia pada lokalitas-gelandangan, dll.
DALAM perkembangannya, ‘lokalitas dengan variannya’ tak dapat secara otomatis disematkan pada pengarang. Ini bukan perkara inkonsistensi, namun lebih pada keinginan untuk melakukan ekplorasi. Baik itu ekplorasi tema, maupun gaya garapan. Namun begitu, pada pengarang-pengarang yang sudah kuat dan mapan kemampuan kesusastraannya, tema apa pun yang mereka garap, dapat kita kenali jejaknya. Hal inilah, menurut saya, yang dikatakan Raudal Tanjung Banua sebagai ‘iman estetik’. Pengarang yang sudah ber-‘iman’ niscaya akan melahirkan karya-karya yang memiliki kekuatan estetik, atau bahasa popularnya ciri khas. Pengarang yang sudah memiliki ciri khas dalam teknik garapan akan jauh lebih muda menghasilkan karya-karya yang memiliki kecenderungan lokalitas. Karya-karyanya mampu menghadirkan kedekatan psikologis dengan pembaca. Hasan al Banna, Joni Ariadinata, dan Habiburrahman el Shirazy—sekadar menyebut beberapa contoh—adalah pengarang-pengarang yang telah berada dalam taraf itu.
Ada beberapa persepsi tentang lokalitas yang rasanya perlu untuk ditinjau kembali. Pertama, selama ini lokalitas ‘kadung’ melekat pada simbol-simbol kedaerahan. Ketika ada cerita-cerita yang mampu menggunakan dan atau menggali nama tempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal, maka ia akan terkodifikasi ke dalam ranah lokalitas. Padahal, belum tentu karya-karya yang memakai simbol/unsur kedaerahan tadi mampu mengeksplorasi unsur-unsur cerita dengan optimal. Inilah yang menyebabkan ‘lokalitas’ yang dipersepsikan pada karya tersebut tak lebih sebagai tempelan semata. Artinya, menggarap tema-tema daerah, tidaklah otomatis membuat karya tersebut disebuat sebagai karya—yang mengandung unsur—lokalitas.
Kedua, lokalitas kerap disamakan dengan tradisionalitas. Ketika karya sastra mengangkat budaya lokal, perihal kearifan lokal, hikayat, mitos, dan sejenisnya, maka dengan ‘semena-mena’ karya tersebut dilabeli lokalitas. Karya-karya yang mampu mengeksplorasi aspek tradisi(onal?) dengan baik tentulah dapat dikatakan sebagai karya lokalitas, lokalitas-daerah. Namun, yang perlu dicermati adalah, karya-karya yang mengangkat tradisi(onal?) belum tentu mampu tampil dengan baik, belum tentu menampilkan ke-daerah-annya dengan baik, belum tentu mampu menampilkan lokalitas, belum tentu adalah karya lokalitas! Artinya, tradisionalitas adalah lokalitas, namun lokalitas tidak melulu tentang tradisionalitas. Lokalitas tidak sama dengan tradisionalitas karena tradisionalitas hanya salah satu bidang eksplorasinya saja.
Ketiga, tradisionalitas (yang kerapkali disebut lokalitas) dalam sastra kerapkali dikatakan sebagai karya yang mengangkat kearifan lokal. Padahal, faktanya, karya-karya tradisionalitas justru menampilkan betapa TIDAK ARIF-nya tradisionalitas/lokalitas yang ada di daerah mereka. Beberapa contoh adalah; Novia Syahidah memaparkan kejawen sebagai tradisi yang bertentangan dengan ajaran agama (Islam) dalam Putri Kejawen, Raudal Tanjung Banua memaparkan bahwa perempuan yang meninggal dunia karena jatuh dari pohon adalah sebuah ketidakarifan dalam Perempuan yang Jatuh dari Pohon, atau Khrisna Pabicahara yang membeberkan kepada publik bahwa orang tua-orang tua di Makasar yang menerima pinangan terhadap anak gadisnya atas dasar besar/kecilnya jumlah mas kawin yang ditawarkan pihak pelamar (lelaki) adalah sebuah penghinaaan atas perempuan sendiri dalam Silariang….
HAL lain yang perlu ditelisik adalah, tradisionalitas (atau lokalitas) seolah selalu tak habis-habisnya untuk dijadikan bahan cerita dalam kesusastraan Tanah Air. Hal ini tak dapat dilepaskan oleh faktor geografi dan budaya Indonesia. Dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, dan perbedaan budaya, sangatlah wajar bila tradisionalitas selalu up date, selalu menarik untuk diketengahkan dalam karangan.
Dalam sebuah perbincangan tentang lokalitas oleh Komunitas Meja Budaya di Pusat Pendokumentasian Sastra (PDS) HB Jassin, November 2010, Zen Hae menyatakan bahwa unsur-unsur kedaerahan yang menyusup (bahkan mewarnai) sebagian karya-karya lokal, membuat bingung; menimbulkan pertanyaan: ini sastra Indonesia atau sastra daerah? Lalu, untuk apa lokalitas (tradisionalitas) ditulis/dijadikan unsur cerita apabila citarasa lokalnya akan serta-merta hilang bila diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris). Sekilas, pernyataan Zen Hae terdengar sangat masuk akal. Namun begitu, harus dikembalikan lagi pada geo-kultur Indonesia sendiri. Dengan ke-bhineka-annya, maka sastra-daerah adalah refleksi adalah sastra Indonesia itu sendiri. Beragamnya nuansa kedaerahan yang muncul dalam karya sastra menunjukkan betapa bergeliatnya sastra Tanah Air. Betapa penggiat sastra negeri ini memiliki milintasi untuk menampilkan otentitasnya, menampilkan identitasnya yang murni, paling tidak dari tema-tema genuine (asli daerah) yang mungkin saja hanya terdapat di daerah mereka. Misalnya, uang jumputan di Minangkabau, warahan di Lampung, senjang di Sumatera Selatan, atau pemakaian koteka bagi lelaki di Papua.
Bagaimana dengan alih-bahasa yang memungkinkan hilangnya rasa lokal pada karya lokalitas-tradisionalitas. Tentang ini, tak sepenuhnya dapat diiyakan. Beberapa karya Garcia-Marquez yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa America Latinnya, atau masih terasa realisme-magisnya; atau karya-karya Akutagawa Ryunosuke ketika dialihabahasakan ke bahasa Indonesia, masih terasa Jepang-nya. Artinya, sangat tergantung pada—kemampuan dan sensitivitas—penerjemahnya. Sejauh mana ia mampu mencari padanan kata yang mewakili rasa cerita yang diterjemahkan. Namun begitu, hal yang paling penting untuk disadari dengan saksama adalah, ke-Indonesia-an kita telah melahirkan keberagaman yang kaya, termasuk tardisionalitas di dalamnya. Belum lagi, kecenderungan pembaca yang menyukai hal-hal yang belum mereka ketahui (termasuk apa-apa yang terjadi di daerah lain), telah membuat tema tradisionalitas sejatinya masih begitu menarik untuk diangkat dan digali. Hal lain yang perlu ditambahkan adalah bila sebelum mengangkat tradisionalitas dalam karangan kita harus memikirkan “apakah rasa lokalnya masih akan ada atau hilang”, alangkah repotnya mengarang tradisionalitas itu!
KHATIMAH, mari kita menghasilkan karya yang berhasil menampilkan lokalitas. Jangan pernah ragu untuk mengangkat tradisionalitas sebagai bahan baku lokalitas cerita. Sejatinya masih begitu banyak unsur tradisionalitas yang belum digali dan ditunggu-tunggu pembaca. Untuk memberikan beragam warna pada sastra, agar mampu mencerahkan, cerah yang berwarna, warna yang indah…. ***
--------------------------- Cerpen ataupun sebuah novel pun sama halnya dengan pembuatan artikel, esai, news, dan karya-karya non fiksi lainnya yang mesti dapat dipertanggungjawabkan. Contohnya cerpen yang mengambil tema berbau kedaerahan tadi. Kalau perlu kita riset, mencari literatur terkait daerah yang akan kita jadikan latar cerpen tersebut. Misalkan tentang tradisi, bahasanya, ataupun hal-hal lain yang tidak bisa kita masukkan secara sembarangan. Hmm...ya ya ya... fahimtum...???  Kemarin aku nanya ke Bang Harie, bagaimana sih sebuah cerpen itu bisa dikatakan berhasil di mata pembacanya selain kita membuat sendiri tentang parameter keberhasilan itu. Beliau, tanggapin pertanyaanku dengan selembar kertas. Anggap selembar kertas itu adalah kertas yang berisikan potongan cerpen kita. Lalu, kita potong menjadi 2 bagian dan coba serahkan ke orang lain untuk membacanya. Kalau orang lain merasa penasaran dengan lanjutan cerita yang kita buat, berarti kita bisa dikatakan sudah berhasil. Just simple... isn't it? Ah, perlu banyak belajar lagi, kawan... foto pinjam disini: (http://www.putumahendra.com/?p=64)
Lama toh nd a nulis... nyempatin kali ini mo mendokumentasikan aksi "menolong itu menyenangkan..." dalam semangat berbagi "berbagi itu gaya, berbagi itu gaul, berbagi itu gue banget..." :D  Yah yah yah... Jum'at, 23 Maret kemarin, Oreners dan kawan-kawan mahasiswa Stikes Muhammadiyah Banjarmasin ngadain penyaluran kornet superqurban, bantuan pakaian dan bahan pangan lainnya ke daerah bencana di kec.Aluh-Aluh, desa Bakambat dan desa Tanipah. Waktu yang ditempuh ke lokasi sekitar 90 menit perjalanan. Namun, itu cuman nyampe di dermaga aja. Untuk ke desa yang terkena bencana yang dituju, kawan-kawan harus naik klotok lagi. Hmm...tapi sayang, aku ga bisa ikut hanya sampe dermaga saja coz there's something we (my sis and I) should to do..  Untuk saat ini masih daerah itu yang baru bisa terjamah oleh kita. Memang, masih ada banyak lagi lokasi benc ana lainnya yang mengalami kenaikan air pasang dan angin puting beliung yang menyebabkan banyak rumah warga sekitar yang hancur dan roboh.  Semoga bermanfaat aja untuk mereka. hari ini, hari yang penuh dengan rezki dariNya. Siang tadi dapat traktiran makan dari teman kantor. Eh, sorenya pas nemenin teman kantor yang satunya lagi tuk buka puasa, tiba-tiba dapat traktiran juga, tapi bukan dari dia, dari orang lain. Ceritanya gini, kita kan lagi asyik makan tuh... dah jalan separo nasinya mo habis. Selain kami yang makan di salah satu warung makan langganan kami, yaitu warung makan bu Anis yang ada di pinggir jalan, lebih tepatnya depan Honda di dekat lampu merah tulip swalayan Kayu Tangi, juga ada beberapa orang yang makan. Tiba-tiba salah satu pasang suami istri yang baru selesai makan di tempat itu sewaktu mau menuju mobilnya yang terparkir di depan warung, sang istri tersebut bilang ke kami, “mba, sudah dibayar tadi ya...” sembari tersenyum pada kami. Aku dan my sis, rada-rada bingung dan saling menatap. “eh, ibu.. maksudnya apa bu? Terima kasih banyak bu..” tanpa menjelaskan panjang ataupun lebar mengapa beliau mau mentraktir kami, ibu itu tetap berlalu menaiki mobilnya masih dengan senyum beliau yang ramah dan tulus. Anehnya,,, (dengan syok yang masih tersisa karena ditraktir... %$@*&6^!,>?) kami malah ketawa-ketawa memikirkan kenapa sebenarnya si bapak dan si ibu teh begitu baik mau mentraktir dengan berbagai alasan di kepala kami berdua. Apakah kami nampak begitu dikasihani,  apakah beliau salah satu donatur yang tidak kami kenal, apakah beliau tau kalau my sis itu sedang berbuka puasa dan ingin mendapatkan pahala atas orang yang membukakan orang berpuasa, atau beliau pada hari itu lagi dapat rezeki yang berlebih... ah, it’s ok. Yang jelas kami pun mendo’akan untuk kebaikan beliau. Mioma, Kawan-kawan sudah pernah dengar kata itu sebelumnya? Pagi Sabtu kemarin, ketika sms dari salah satu ade, baru sempat kubalas yang sebenarnya dia menanyakan kabarku pada malam harinya, aku baru teringat akan sesuatu. Berhubung malam itu baterai HP ku lagi di charge, jadinya pagi saat bersiap-siap mau berangkat kerja kusempatkan bertanya balik akan keadaannya. “Alhamdulillah positif ka.” Kalimat sms balasan darinya membuatku beristighfar. Disambangi dengan bunyi kalimat lain yang membuat lututku berasa lemas membacanya. Dia bilang malam tadi sudah periksa ke rumah sakit. Kondisinya saat ini benar-benar lemah dan dari pihak RS juga sudah merujuknya untuk segera mendapatkan darah. Dokter bilang, dia terkena mioma dan penebalan dinding rahim. Mioma, termasuk penyakit kanker (mungkin kawan-kawan bisa cari tau sendiri tentang penyakit mioma itu lebih jelasnya seperti apa di google). Saat kutanya sama siapa ke RS periksanya, dia bilang sama teman. Dan sebenarnya selama ini dia ngurus sendiri cuman karena perlu motivasi dari seseorang maka dari itu dia ngajakin teman menemaninya. Kawan, dia adalah salah satu anggota FLP Cabang Banjarmasin yang selama ini cukup aktif terlibat dalam FK. Dia anak pertama dari lima bersaudara. Dan selama dia mencoba menyimpan sendiri masalahnya (hanya beberapa orang lain yang tau), belum pernah dia ceritain tentang penyakitnya kepada kedua orangtuanya. Gejala-gejala itu sudah mulai nampak sejak tahun 2009 silam. Di tahun itu dia pernah periksa ke dokter. Dan, memang sudah dikatakan bibit-bibitnya mungkin sudah menyebar. Ketika dirinya tau bahwa dia mengidap penyakit itu, dia berusaha mencoba kuat, menjalani aktivitas seperti biasa, selalu ceria dan bercanda dengan teman-teman, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan agar dia tidak menganggap dirinya aneh dengan penyakitnya tersebut dan berlarut-larut dalam kesedihan. 
Selama ini, dia pula yang sering kirim sms motivasi ke inbox Hp-ku dan mungkin kawan-kawan yang lain juga pernah mendapatkan sms darinya itu. Itulah cara yang dia lakukan untuk memotivasi hidupnya sendiri dengan berbagi dan menyebarkan sms-sms nasihat dan motivasi. Sejak sekali itu periksa, belum pernah lagi untuk mendatangi dokter hingga malam kemarin itu. Hal ini juga dikarenakan keterbatasan biaya berobat. Dokter juga menyarankan dia untuk transfusi darah. Saat ini dia perlu darah (gol.darahnya B) karena anemia. Kalau darahnya sudah normal baru bisa diobati. Rencana dia pulkam besok ahad untuk menceritakan semuanya kepada orangtua dan keluarga. Kawan, dia perlu support dari kita semua... mohon do’akan pula di setiap usai sholat kita agar dia diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaanNya. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik akan masalah yang sedang dia hadapi ini. Saya sudah ijin kepadanya untuk menceritakan ini kepada kawan-kawan semua. Karena saya menganggap kita adalah satu keluarga di sini, (khususnya di FLP Cabang Banjarmasin) maka dari itu alangkah baiknya kita saling meringankan beban sodari kita, Halimatus Sa’diyah (mahasiswi IAIN Antasari). Bagi kalian yang ingin membantunya dari segi materi, silakan hubungi saya ke nomor : 0813 4820 1506 Atau, bagi yang ingin membantu memberikan motivasi kepadanya bisa sms langsung ke Hpnya di nomor: 0878 1562 3140 Jazakumullah khairan katsiran atas waktu luangnya untuk membaca tautan ini dan juga bagi yang berniat ingin membantunya. (di link kan ke group FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Banjarmasin: http://www.facebook.com/groups/351703734861579/) Bilik inspirasi, # bersama deruan rintik hujan, mencipta kemarau rindu jika tak lama datang...semoga nanti ia membawa kabar bahagia untuk saudariku,dalam balutan asma-asmaNya dari langit Naah, ini cerita kepulangan kemarin.
Setelah dipuaskan (meski ending cerita filmnya sedikit kurang greget – nah baru aku nyadar kurang gregetnya dimana) dengan nonton N2M malam jum’atnya, dini harinya lagi di sepertiga malam terakhir, tepatnya pukul 04.20 wita, aku dan my sis Ina berangkat untuk pulkam. Hmm... karena sesuatu dan lain hal yang mengharuskan kami untuk pulang ke Amuntai dan ke Alabio. Alhamdulillah pula bisa kumpul dengan keluarga barang sehari semalam. Karena kepulanganku juga, abahku rela ngorbanin satu ekor ayam peliharaannya untuk beliau sembelih dan dibikin sup oleh mama (Bukan aku yang minta lho...). Tapi, yaa begitulah mama. Apapun selalu menjadi kekhawatiran beliau. Mama memang begitu memperhatikan anak-anaknya dan begitu protektif. Hal yang wajar dari orangtua.
Nyampe di Amuntai sekitar 09.30 wita. Karena belum sarapan, mampir dah di warung dulu, nikmatin ayam panggang yang dicincang sama kuah supnya. Setelah kenyang baru memproses urusan yang harus dikerjakan hari itu. Habis itu, mampir ke TKIT dan ketemuan sama kader akhowat disana. Baru balik ke Alabio, ke rumah untuk beristirahat.
Sengaja tidak memberi tau orangtua dan saudara akan kepulangan ini. Hehe.. biar mereka surprise. Ina mah langsung glek istirahat di kamar karena dia sangat kelelahan. Sedangkan aku nyempatin bercengkrama dengan kakak mengenai lepi yang baru dibelikan sama abah. Ngajarin dikit terkait pengoperasiannya. Kemudian rebahan bareng adik sambil dia otak-atik hp nya.
Sore hari, jengukin nenek dan kangen juga sama adik sepupuku si cantik Zahra. Semua keluargaku menyukainya. Dia baru berumur sekitar 1 tahun. Lucu banget anaknya. Masih dalam tahap belajar berjalan. Setelah asyik bermain-main dengannya, malam baru balik ke rumah lagi. Sedangkan Ina, sore itu juga ke Tanjung dijemput adiknya di Amuntai sekalian jengukin abahnya. Jadi ga nginap di rumahku.
Pagi Sabtunya, pukul 09.30 wita go lagi ke Amuntai. Menyelesaikan urusan yang alhamdulillah pada hari itu dimudahkan sama Allah. Dah urusan beres, mampir lagi ke TKIT dan ketemu sama MR pertamaku waktu sekolah dulu. Subhanallah dah pokoknya beliau ini sama suami beliau. Mereka berdua salah satu pasangan yang membawa tarbiyah ini ke Amuntai dan menjadi penggiatnya. Alhamdulillah, kader-kader di sana juga berkembang lumayan banyak.
Diskusi panjang yang santai tapi cukup jadi pertimbangan diri untuk sebuah pengambilan keputusan. Antara Banjarmasin dan Amuntai. Yang mana yang harus dipilih... berat memang.
Banjarmasin, I love it. Disini banyak kenangan dah... bersama tarbiyah yang telah menjadikan aku seperti sekarang ini. Ada amanah yang aku cintai sehingga membuatku harus bertahan dan belum memilih untuk benar-benar pulang. Namun, satu sisi, Amuntai juga bisa menjadi ladang amanah yang baru. Disamping jadi lebih dekat dengan orangtua.
“Kalau kita ingin membeli suatu barang, namun oleh penjualnya hanya memperlihatkan satu macam warna saja, tentunya kita bertanya dan mencari pilihan warna yang lain apakah masih ada. Agar kita bisa mengambil yang terbaik yang sesuai dengan kehendak kita. Tapi, kalau dihadapkan dengan pilihan ladang amanah yang mana yang harus diambil, jujur masih agak sulit untuk memilihnya untuk saat ini. Mending tidak ada pilihan, cukup satu saja. Meskipun keduanya sama-sama baik.” Ucapku ke Ina. Analogi ini memang kurang tepat sih.. hanya saja masih terus kepikiran sampai saat ini.
Kepulangan kali ini, jadi membawa PR di kepala kami masing-masing. Beliau banyak bertutur akan peluang-peluang amal di sana. Ada rencana sih, jika aku benar-benar pulang nanti apa yang harus aku lakukan. Namun, Lagi-lagi, masih berat untuk ninggalin Banjarmasin. Ah, entah sampai kapan, pada saatnya nanti akan kuputuskan. Saat ini masih bimbang.
Siang menjelang ashar sekitar 15.30 wita kami siap-siap balik ke Banjarmasin lagi. Sepanjang perjalanan hujan setia menemani sampe ke Kayu Tangi. Sekitar jam 9 malam lewat nyampe rumah dengan kondisi basah dan kotor-kotor karena kecipratan debu-debu dan tanah yang terpintal bersama air hujan. Sangat melelahkan.
Pagi Minggunya, bersiap ke daurah dengan sedikit mengabaikan lelah yang masih tersisa. Kemudian selesai daurah nemenin Ina ngunjungin DM1 nya KAMMI di pal 17. Terus sorenya bertemu sodari-sodari di LC. Dari pagi beraktivitas dengan kegiatan diluar sampe sore pas maghrib baru pulang ke kos lagi. Alhamdulillah, semoga diberkahi Allah.
Monday, back to work again...
Sebenarnya mau bikin tulisan ini dan ngepostinginnya pas balik ke rumah usai nonton N2M alias Negeri 5 Menara di bioskop ‘21’ kamis tanggal 1 Maret kemarin. Berhubung tiba-tiba kecapean dan langsung lep... yaah.. rencana nulisnya jadi ketunda deh... terus besok-besoknya juga ga sempat karena mendadak pulkam. Walhasil, baru sekarang bisa nyeritain. Hemmm... sayang banget kan kalo semangat nulis tapi ga disalurin. Pas ide-ide nulis itu lagi bertebaran kesana-kemari di otak.  Wokeh,,, This is the first time I watched the premiere of the movie in bioskop ‘21’ di Duta Mall. Hehe..  Biasanya kalo mau nonton film pas seminggu atau dua minggu setelah premiere nya tayang. Yaa.. tergantung jadwal ga padat dan sikon keuangan,.. gkgkgk... Film-film yang kutonton pun belum pernah film luar negeri selalu yang buatan dari orang-orang Indonesia. Sekarang maah.. sudah banyak film-film edukasi dan memang layak untuk ditonton. So, baguslah buat menginspirasi dan menyemangati diri kita. Karena motivasi bisa datang dari mana saja. Ya kan kawan... Appreciate daah buat pembuat film bermutu kayak itu. Dan... salah satu impianku selain jadi fotografer,  ialah ingin juga jadi pembuat naskah film edukasi seperti mereka.  Waaaa..... tapi sepertinya ‘man jadda wa jada’ ku masih belum tertancap kuat.  Dengan semangat 45, pokoknya tanggal 1 Maret harus nonton N5M. Sudah direncanakan hampir sebulan sebelumnya ketika mendengar ‘bisik-bisik tetangga’ bakalan tayang premiere tanggal segitu. Dan alhamdulillah, diberi kesempatan untuk menonton film tersebut. Sepulang dari kantor, ke rumah bentar ganti kerudung tanpa sempat mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 17.30 wita. Buru-buru berangkat takut kehabisan tiket untuk nonton yang pukul 19.15 wita. Waah, kalo ga dapat pastinya ga bakal nonton jadwal yang setelahnya. Kemaleman ntar pulangnya.  Cowok mungkin masih mending, tapi kalo cewek pulang jam 12an, apa kata dunia...  Intinya sih beruntung karena dimudahkan Allah dengan meluruskan niat kembali tujuan nonton itu apa. Pastinya, berangkat dengan my sis, Ina. Dan janji ketemuan juga tuk nonton bersama Vina.    Intro musik khas Minang yang mengiringi layar bioskop menampilkan setting-setting alam di sana, Danau Maninjau, rimba Bukit barisan, membuatku takjub dan bergumam subhanallah... elok nian. Jatuh hati dengan Minang.  Permulaan yang cakap di filmnya N5M. Terkagum-kagum sangat. Jadi pengen nambah tujuan travellingku kesana dalam daftar targetan yang ingin dicapai selain ke green canyon, raja ampat, malino, singapore, brunei, dan venesia.  Oleh karena aku belum membaca bukunya bang Fuadi itu (SKSD banget…), jadi aku tidak bisa menilai apakah gregetnya sudah pas atau belom, aku ga tau. Anggapan dari salah satu temanku, katanya sedikit mengecewakan.  Penggarapannya kurang bagus. Ah, entahlah.. bagiku tu film, good job dah.. Film ini berkisah tentang impian, persaudaraan yang indah dari ‘shohibul menara’, kepatuhan terhadap orangtua, juga tentang keyakinan yang kuat. Pastinya ni film, two thumbs deh... d^^b   Aku suka tokoh Alif, yang pada mulanya kekeuh dengan pilihannya untuk melanjutkan sekolah ke SMA Bandung, agar nanti bisa meneruskan ke Perguruan Tinggi yang dia impikan yaitu ke ITB tapi akhirnya dia nurut sama kedua orangtuanya untuk masuk pesantren, ke Pondok Madani. setelah nasihat yang diajarkan oleh sang ayah tentang kehidupan ini ‘jabat dan jalani’. Yang artinya jangan menolak sesuatu sebelum kita merasakannya selama itu baik untuk kita dan tidak mendatangkan mudharat. Kemudian kesukaannya terhadap jurnalis dan fotography, itu juga hal yang kusuka. bagiku antara hobby dan obsesi.  Lain lagi Atang. Bandung euy...  suka aku sama bahasa sundanya. Atang, tipikal konseptor, pengarah, dan punya gebrakan. Terbukti dari idenya untuk memperbaiki generator pesantren agar lampu tidak sering padam lagi dengan intuisinya. Dia juga perancang sekrenarionya pementasan drama ‘ibnu batuta’ waktu kelas mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan akhir tahun yang diadakan pesantren. Nah, satu kesamaan lagi obsesi dengan si Atang.  Paling aku suka sosok Baso. Menurutku dia tokoh yang paling berkesan. Selalu bersemangat, berpikir yang positif, menaruh impiannya setinggi angkasa, sosok pembelajar, tidak mau menyerah, dewasa, dan al-akh banget. GB alias gadhul basharnya mantap pisan.  Keharuanku muncul ketika dia harus pulang ke kampung di Sulawesi dan ingin merawat neneknya yang sudah sakit parah. Selama dia bersahabat dengan Alif, Atang, Raja, Said, dan Dulmajid, tidak pernah dia memberitahukan bahwasanya kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dan yang dia punya cuma seorang nenek renta yang sakit-sakitan dan dirawat oleh tetangganya. Maka dari itu, dia tidak pernah mendapatkan kiriman surat selama di pesantren seperti teman-temannya yang lain yang mendapatkan kiriman surat dari ortu di kampung. Pilihan yang harus dia ambil berbakti kepada nenek satu-satunya dan meninggalkan bangku pesantren dimana dia ingin meraih mimpi-mimpi yang hendak dia wujudkan. Namun, meski demikian semangatnya tak surut karena ketiadaan kesempatan untuk bersekolah lagi. Dia masih punya impian walau berada di kampung, tak benar-benar membatasi geraknya untuk maju dan berprestasi. Baso, dalam film itu, sekembalinya ke kampung dia mengajari adik-adik disana belajar mengaji. Seperti halaqah... (langsung ingat anak-anak juara), lagi-lagi air mata pun dengan sendirinya keluar tanpa permisi.  Raja, Said dan Dulmajid, memang tidak terlalu menonjol. Tapi, semuanya juga punya pribadi yang menarik. Ah, maaf saja tidak bisa berpanjang lebar menceritakan karakter mereka semuanya. Hanya sosok Alif, Atang dan Baso yang kukenal baik.  Pelajaran man jadda wa jada nya, oughh... dapet banget . disini ustadz Salman ketika mengisi pelajaran di kelas barunya Alif dan teman-teman yang lain memberikan contoh yang masuk akal. Dan metode ini, sangat bagus. Dicerna mudah. Menampilkan sesuatu yang bisa menarik perhatian sebelum pelajaran dimulai. Agar bisa memberikan kesan pertama begitu bla bla bla... hahay... Bagi para guru, patut ditiru metode seperti ini nih... Tujuannya yang lain agar guru bisa memberikan suasana akrab dengan murid. Endingnya dari film ini, kayak Laskar Pelangi sih... seeeeet... tiba-tiba sudah di luar negeri tokohnya berhasil meraih impiannya. Pun, begitu teman-temannya yang lain. Semua jadi orang yang sukses. Dan persahabatan mereka berlangsung sampai mereka dewasa. Intinya pula, jika ingin meraih kebahagiaan kita, selain berusaha dan mantra ‘man jadda wa jada’ diperlukan do’a sepasang bidadari seperti yang Ippho bilang dalam bukunya. Do’a dari orang-orang yang mensupport perjuangan kita. Insya Allah... Ini yang mungkin bisa sedikit aku share. Ga bisa ngulas filmnya secara keseluruhan. Semoga bermanfaat, kawan...  bilik inspirasi, malam yang menemani kepenatan Pagi di kantor, ketika berhadapan dengan kompiku sendiri menatap laporan-laporan yang mestinya harus sesegeranya diselesaikan, sembari murattal yang terdengar dari M.Thoha keluar dari speakers kompi teman kantor satu ruanganku, refleks antara otak dan hati mencoba mengingatkanku untuk mengevaluasi diri. Dan, tiba-tiba rasanya pengen nangis. Entahlah, I just feel something is lost from my inside. What's that? I don't know.Antara kesyukuran dan kelalaian yang mungkin telah menggunung. Lantunan surah Al-Qalam ternyata membuatku gerimis dan rindu kepada Allah, kepada Rasul, kepada orangtua, kepada saudara-saudariku fillah... rindu untuk bertemu di jannahNya. Bukan bermaksud untuk membuat pagi ini melow. Tapi, hanya ingin mengungkapkan apa yang sengaja membuatku berpikir. Dan aku baru tersadar kalau hari ini sudah masuk awal Maret, kupikir baru di penghujung Februari yang kabisat. Demi masa, Demi waktu dhuha... # teruntuk jiwa yang telah menapaki semusim rasamungkin sudah landai kita harus menyaksikan semua inisegera temui aku di musim bungapada lahan-lahan yang digemari angindan kita tempatkan lagi rasa yang sudah tercecerdi bejana yang akan menampung setiap rindu kita Kawan... semoga terhibur dan semangatmu kembali lagi bersama senandung ini...
One Day, One Dream Artist:Tackey & Tsubasa 5th Opening Song of Inuyasha You can now dream, (yuuka na dream) Furikazashi I’m in a world, (aimai na world) Kakenukeyou Yuutsu ni naru genjitsu ni tachi mukau Mune no naka de Seichoushiteru yuusha Yuube mita yume ga, Sono zanzou ga, Myaku o ustu ‘saa ike’ to. Jibun no color (kara) yubutte Fukuramu mirai o Muriyari tojikomeru no kai? You can now dream, (yuuka na dream) Furikazashi Go in and try, (gouin na try) Kurikaeshi nayami Hatenaki hibi e to kimi mo Do you need to cry? (Douyou ni cry?) Kodoku tomo Show me a day, fight, (shoumen de fight) Namida suru tabi ni Yuruginai yume to nare. Choujin yori mo kakushin no hou ga tsuyoku Goukin yori mo kesshin no hou ga katai Dangan no KOKORO Okubyou o megake Hikigane o hikeba ii Myuchuu no power haratte Tuskinuketa kako ni Mou ichi do hikikaesu no kai? You can now dream (yuuka na dream) Sore dake ga I’m in a world (aimai na world) Kakenukeru bukisa Mayoi o kiesashite asu e We can’t know… goal (eikan no goal) Tadoritsuku Bokura o yume ni eigakouyo Ikusu mono asa no mukou. Sense makes now wish (senmei na wish) Akogare ni Kagayaku chizu ni nai kouya ga bokura o motte iru kyou mo You can now dream (Yuukan na dream) Furikazashi Go in and try, (gouin na try) Kurikaeshi nayami Hatenaki hibi e to kimi mo Do you need to cry? (Douyou ni cry?) Kodoku tomo Show me a day, fight, (shoumen de fight) Namida suru tabi ni Yuruginai yume to nare.
Terjemahan : Sekarang kau dapat bermimpi menggenggam mimpi yang berani aku dalam sebuah dunia dan berlomba melewati dunia yang tak tentu menyedihkan bertarung dengan kenyataan seorang pahlawan terus tumbuh dari dalam hati aku melihat mimpi malam tadi dan gambar itu meninggalkanku mengejutkan dan meneriakkan “ayo kita pergi!” kalahkan warnamu sendiri dan tempurungmu akankah kau menjaga masa depan yang terus berkembang mengunci keinginannya? kau sekarang dapat bermimpi menggenggam mimpi yang berani pergilah dan coba lewati berbagai masalah berusaha keras untuk kembali aku akan pergi menuju hari tanpa akhir bersamamu perlukah menangis? Apa kau menangis lagi? tunjukkan padaku satu hari, ayo berjuang! mimpimu akan menjadi kuat tiap kali kau melawan rasa kesepian dan air mata mengalir milikilah kepercayaan diri lebih kuat dari orang yang paling kuat dan ketetapan hati lebih liat dari logam apapun bidikkan sebutir peluru dari hati pada sifat pengecut dan tarik pelatuknya; tidak apa-apa bila kau lakukan kekuatan yang menahanku tersingkirkan apakah aku kembali sekali lagi ke masa lalu yang telah dihancurkan? kau dapat bermimpi sekarang, menggenggam mimpi yang berani aku dalam sebuah dunia, dan itulah satu-satunya senjata yang dapat menggerakkan masa lalu dunia yang tak tentu kita tak tahu… kita telah berjuang sejauh ini untuk tujuan sebuah mahkota kita terlukis pada sebuah mimpi ada sangat banyak hal setelah hari yang baru keinginan yang hidup peta yang berkilau tanpa tanah tandus membawa kita pada berbagai keinginan hari ini juga kau sekarang dapat bermimpi menggenggam mimpi yang berani pergilah dan coba lewati berbagai masalah berusaha keras untuk kembali aku akan pergi menuju hari tanpa akhir bersamamu perlukah menangis? Apa kau menangis lagi? tunjukkan padaku satu hari, ayo berjuang! mimpimu akan menjadi kuat tiap kali kau melawan rasa kesepian dan air mata mengalir
------------------------------------------------------------------- Februari, adalah bulan miladnya FLP.
Tahun ini adalah miladnya yg ke 15. Barakallaah..Congratz.. Sebagai salah satu pengurus dan anggota FLP Cabang Banjarmasin di tanah borneo ini, sangatlah bangga bisa menjadi bagian dari pejuang-pejuang pena. Minatku menulis sudah sejak SD. Pernah dulu ikut lomba mengarang. Yaah... meskipun belum menang, tapi cukup senang karena sudah mewakili sekolah untuk mengikutinya. Berawal dari pujian guru bahasa Indonesia yang menilai hasil tugas mengarangku di kelas sangatlah bagus maka beliau mengikutkanku. Luar biasa, pujian membuat orang bisa bersemangat dan termotivasi.
Tapi ya... karena dulu memanglah masih anak-anak pasti pujian itu sangat mempengaruhi jiwa seseorang. Pun, sekarang memang tak bisa dipungkiri pula saat orang sudah dewasa masih senang kalau dipuji. Tapi, alhamdulillah... bisa memenej pujian itu dengan baik. Bersyukur dan tidak berbangga diri karena riya. Karena kesempurnaan hanya milikNya.
Kenangan waktu MTs juga begitu menyenangkan. Dulu, juga suka nulis kumpulan cerpen di buku. Sering tuker-tukeran karya dengan teman sekelas karena pas juga hobinya sama, senang nulis.
Alhamdulillah, minatnya sampai kuliah dan bekerja sekarang masih sama. Nulis memang mengasyikkan... dan bisa sedikit menghilangkan beban..
Yuk rajin menulis.. karena menulis bisa membuatmu kaya imajinasi.
Go FLP !!!
Yup, kami menyebutnya 'ritual jum’at'. aku dan Ina, my sis. Haha... agak mistik jadinya. Tapi, bukan ritual yang serem-serem kami lakukan, tidak ada semedi, tidak ada kemenyan, tidak ada sesajen, bukan mandi kembang 7 rupa, bukan komat kamit ala mulut mbah dukun, tidak ada berbagi jimat, bukan pula memanggil-manggil arwah atau jin atau dedemit (hiiyy... jadi bergidik sendiri) atau apalah isitilah-istilah perdukunan itu... yaah.. mungkin lebih tepatnya dengan sebutan “Jum’at berbagi” kata si empunya. Di mulai sejak bulan Desember tahun lalu a.k.a 2011 kemarin... ritual jum’at ini dialihkan ke kami sebagai pengemban amanah yang baru (gaya betul...). entah sudah berapa kali kami melakukannya, hingga hari ini tadi... memang sudah lama pengen cerita tentang ritual ini tapi baru sekarang kesampean berceritanya (halah...). Niatannya bukan apa-apa, hanya sekadar share kebaikan. Semoga bisa dijadikan teladan. Ada salah satu donatur yang punya wirausaha membuka ‘tempat nongkrong’ di depan rumahnya yang menjual aneka jus, fried chicken, dan aneka masakan lainnya punya kebiasaan melakukan acara jum’at berbagi (istilah bagi beliau) ini dengan nyediain 40 kotak nasi plus fried chicken untuk dibagikan ke orang-orang (yang kurang mampu). Alhamdulillah, dengan acara jum’at berbagi ini, usaha beliau dilancarkan oleh Allah. Naah, untuk 3 bulan terkhir ini... beliau meminta bantuan kepada kami untuk membagikannya. Yaa... meskipun belum bisa melakukan seperti apa yang donatur itu lakukan yaitu nyediain makanannya untuk dibagi, kita juga bisa melakukan kebaikan yang lain dengan menerima amanah tersebut. Jadilah tiap Jum’at antara sekitar jam 11.00an sampe jam 12.30an lewat kita menggantikan amanah itu dengan membagi-bagikannya di jalan yang kebanyakannya kita kasihkan kepada abang tukang becak, pemulung sampah, dan penarik gerobak. Terkadang miris juga sih ngeliat mereka yang sampai hendak mendekati waktu sholat jum’at belum bergegas untuk siap-siap sholat. Semoga, kenikmatan-kenikmatan yang datangnya dari Allah itu salah satunya bersumber dari balasan atas kebaikan dan keberkahan ‘ritual jum’at’ ini. Karena, balasan Allah itu datangnya dari arah yang tidak kita sangka dan tidak kita duga.  # Jadi teringat sms motivasi yang dikirimkan oleh seorang adik... ~Seorang buta berjalan pada malam hari. Tapi, di tangannya ia memegangi sebuah lentera. Orang-orang bingung, apakah ia sudah gila? Bukankah ia tidak membutuhkan lampu? Bukankah ia buta? Lalu mereka pun bertanya kepada orang buta itu, “Mengapa engkau menggunakan lentera sementara engkau tidak dapat melihat?” Orang buta itu menjawab, “Aku membawa penerang, tapi bukan untukku. Aku membawanya untuk orang lain.agar mereka dapat melihat dan tidak menabrakku.” Dan mereka pun tertegun atas jawaban si orang buta.~ Inti dari cerita singkat tersebut... Tetaplah menjadi pribadi yang mampu memberi arti untuk orang lain, apapun keadaaan kita. ^_^
| |